hari ini, 10 tahun yang lalu
10 tahun bukan waktu yang sebentar, tapi ternyata bukan waktu yang cukup lama. Sepertinya bila saya ingin menggali, saya masih merasakan kejadian itu seperti baru kemarin.
Jakarta telah bergolak dari hari sebelumnya. Toko-toko dibakar. Demo mahasiswa dan tindakan represif. Tapi apa daya, tanggal 14 itu saya masih ebtanas smp untuk hari yang terakhir. Ebtanas teraneh dalam sejarah saya sekolah. Didalam kelas suasana mencekam bukan karena soal-soal ujian, lebih kepada konsentrasi penghuni kelas terhadap siaran radio. Sebentar-sebentar penyiar memberitakan di tempat a ada bla di tempat b mulai bleh dan lain dan lain dan lain-lainnya.
Ketika ebtanas berakhir kepanikan segera terjadi. Bagaimana cara pulang? Bagaimana cara memulangkan murid-murid. Kalau tidak salah hp sudah ga ada yang dpt sinyal. Jalanan mana yang aman dilalui pun tidak terlalu jelas juga. Saya sendiri pulang naik motor, bertiga dijemput oleh om antar jemput. Jalanan sepi sekali dan tidak terlalu lama saya sampai dirumah.
Tidak lama saya sampai, massa mulai lewat depan rumah. (Saya selalu membayangkan, bila saya terlambat pulang 5 menit, apakah ada efeknya? Akankah saya bisa menulis ini sekarang?). Hmm.. Rumah saya sendiri diancam dibakar bila ayah saya tidak mau memberikan sejumlah uang. Akhirnya setelah tawar-menawar dan (mungkin) karena ayah saya alumni kampus reformasi, massa pun meninggalkan rumah kami. Mereka akhirnya membakar sebuah bank diujung jalan rumah. Memecahkan kaca-kacanya dengan botol dari tukang minuman yang mangkal disana. Kebakaran terjadi dan (mungkin) karena terlalu banyak kebakaran saat itu, tidak ada pemadam kebakaran yang mematikannya. Tapi ntah kenapa, apinya tidak merambat ke rumah-rumah disamping bank itu.
Karena keadaan semakin tidak kondusif (saudara a menelpon, rumahnya dijarah. saudara b dirumah sakit karena perutnya ditusuk pisau dan kejadian-kejadian seperti itu) akhirnya saya, adik2 dan ibu saya diungsikan ke tempat kakek-nenek saya. Sedangkan ayah saya dan temannya tetap dirumah. Sepanjang perjalanan (yang hanya 15 menit, tempatnya dekat) saya melihat pemandangan yang biasanya hanya saya liat di tipi. Mobil-mobil hangus. Sisa-sisa api yang masih menyala. Tidak ada mobil yang ada dijalanan selain bangkai mobil.
Ditempat kakek-nenek saya, kami hidup dalam kegelapan. Semua lampu dimatikan, hanya parabola (masih jaman kyny pas itu) yang distel dengan suara sangat kecil. Pokoknya, aktivitas kehidupan ditunjukkan seminimal mungkin agar tidak menarik perhatian. Benar-benar seperti pengungsi dalam peperangan. Setelah kejadian itu pun, selama beberapa waktu sepertinya selalu ada aura saling mencurigai. Sangat tidak nyaman.
Sangat lega ketika 2 minggu setelahnya (ketika pengumuman ebtanas) saya masih bisa menjumpai semua teman-teman saya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak peduli sebrapa buruk nilai-nilai kami saat itu (ms nilai ebtanas sd dan smp saya hanya beda 1 poin, 41 dan 42) yang penting semuanya selamat.
Dan, ketika akhirnya kini saya, 10 tahun kemudian juga menemukan bahwa tidak semua orang seperti orang yang membakar-menjarah dan semuanya itu. Ketika (untunglah) keluarga dan teman-teman saya juga tidak mengalami kejadian yang terlalu mengerikan saat itu (dibunuh/diperkosa dll). Tetap masih ada trauma terhadap kejadian itu. Saya yang hobi menggoogling segala sesuatu tampaknya juga belum berani untuk mencari segala fakta mengenai peristiwa itu. Sesuatu yang sebenarnya mudah dilakukan. Ketakutan bila kejadian seperti itu terjadi kembali.
Mungkin saya seperti zebra dalam madagascar yang menanyakan keberadaan dirinya.
Am I black with a white stripes or am i white with a black stripes?
6 comments so far
Leave a reply





Listyaaaa….
gw merinding stelah baca ini.
gw tau kejadian-kejadian itu lewat tipi, ga pernah nyangka gw kenal seseorang yang kena imbasnya bener2. Gw lega banget lo ga telat 5 menit or I might not have a friend like you.
Aghhh gila!
Mudah-mudahan jaman edan itu ga keulang lagi.
Mudah-mudahan hanya seberkas sejarah kelam bangsa ini yang bisa dijadikan pelajaran untuk semua.
Anyway, I think you are both. Black with white strips or White with black stripes. Either way, you are who you are. It’s not the outer appearance that defines you, but what’s inside of you and the things that you contribute. Miss u gurl!
hehe.. jadi sok bijak gini.
glekh
saya benci fakta bahwa kita tidak bisa memilih apa yang akan kita ingat
cepet ya 1 dasawarsa..
parah.. mana waktu itu gue masih kos di deket citraland pula.. n citraland itu deket trisakti.. awal mula kerusahannya waktu itu..
fuh..fuh..
@ anggi: huhuhu.. kok gue terharu ya baca komen elo.It’s not the outer appearance. Tapi kalo kata tante, judge me by my cover ya.. Hehehehe..
@ doti: tp kl yg di eternal sunshine on the spotless mind terjadi seru apa serem ya?
@ james: yg berlalu biarlah berlalu. tapi gpp kan lo?
list….
gw juga inget banget peristiwa itu…
gw baru pulang sebulan setelah hampir 8 tahun tinggal di negeri orang.
bingung…
ga ngerti…
kok orang2 pada kaya kerasukan setan gitu??
what the hell is happening??
inikah Indonesia??
kalo mo reformasi untuk perbaikan, kenapa banyak korban tak bersalah?
aneh….
rasanya pengen balik aja ke negeri orang lain, ato ke mana lah…
gw inget nyokap malem2 nyiapin 2 tas depan pintu rumah. 1 tas berisi akte2 kelahiran, ijazah dan surat2 penting lainnya. 1 tas lagi berisi 1 pasang pakaian untuk setiap orang.
buat apa?
biar bisa cepet kaburnya kalo rumah tiba2 diserbu katanya…
Wah num, gue baru tau kalo ternyata kejadian ini ga nyerang etnis tertentu aja. Sampai-sampai elo juga udah prepare. Tapi sudah berlalu, dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi. Kenapa ya kita bisa begitu terpecah? Apakah semua harus dibrainwash? Generalisasi memang sangat berbahaya. Contoh skala kecil, penilaian terhadap angkatan bawah di himpunan.